PENGARUH
PENERAPAN TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM)TERHADAP EFISIENSI BIAYA DAN
EFEKTIFITAS PELAYANAN PADA DEPARTEMEN KAMAR DI HOTEL GRAGE
HORIZON BENGKULU
19 Nov
PENGARUH
PENERAPAN TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM)TERHADAP EFISIENSI BIAYA DAN
EFEKTIFITAS PELAYANAN PADA DEPARTEMEN KAMAR DI
HOTEL HORIZON GRAGE BENGKULU
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat dewasa ini
membawa pengaruh yang cukup besar bagi perekonomian di Indonesia maupun di
dunia. Para pelaku bisnis nasional perlu menyadari bahwa dalam situasi
persaingan yang sangat ketat ini, mutlak diperlukan strategi yang handal agar
produknya memiliki keunggulan. Setiap pebisnis bebas menawarkan produk dengan
berbagai cara, antara lain lewat harga yang kompetitif, pelayanan yang baik dan
kualitas dari suatu produk maupun jasa.
Pelayanan menjadi salah satu syarat utama bagi kesuksesan bisnis. Kompetisi
global memberikan pilihan kepada konsumen dan mereka semakin sadar biaya dan
sadar nilai, dalam meminta produk dan jasa yang berkualitas tinggi. Dengan
meningkatnya kepekaan konsumen terhadap produk dan jasa, maka daya saing dan
daya tahan setiap usaha harus memandang rendahnya biaya yang dikorbankan, tetapi
juga ditentukan oleh efektifitas pelayanan. Hal inilah yang mendasari pemikiran
akan perlunya suatu sistem manajemen terpadu seperti Total Quality
Management (TQM) agar dapat menghasilkan berbagai produk dan jasa yang
berkualitas tinggi. Kualitas produk atau jasa yang dihasilkan harus diimbangi
dengan pengeluaran biaya yang seminimal mungkin dan pelayanan yang se-efisien
mungkin
Total Quality Management merupakan suatu konsep manajemen modern yang
berusaha untuk merespon secara tepat terhadap setiap perubahan yang ada, baik
yang didorong oleh kekuatan eksternal maupun internal. Total Quality
Management juga merupakan tantangan terhadap teori manajemen tradisional.
Pendekatan tradisional menekankan tujuan perusahaan pada usaha memaksimumkan
laba, sedangkan Total Quality Management lebih berfokus pada tujuan
perusahaan untuk melayani kebutuhan pelanggan dengan memasok barang dan jasa
pelayanan yang memiliki kualitas sebaik mungkin.
Total Quality Management memberikan landasan bagi manajemen kualitas dan
merupakan suatu alternatif dalam menjamin kepuasan pelanggan. Total Quality
Management memberikan suatu struktur (kerangka) dan alat bagi manajemen
kualitas sehingga pada keseluruhan operasi terdapat upaya yang berkelanjutan
yang memusatkan perhatian pada kelompok bidang kualitas. Konsep kualitas yang
berorientasi pada kepuasan pelanggan secara terpadu bersamaan dengan biaya
kualitas yang rasional harus dibentuk sebagai salah satu tujuan implementasi
dan perencanaan bisnis dan produk yang primer dan pengukuran prestasi dari
pemasaran, perekayasaan, produksi, hubungan industrial, dan fungsi pelayanan
dari perusahaan.
Prinsip Total Quality Management dalam pencapaian tujuannya adalah
melakukan perbaikan kualitas secara terus-menerus sehingga perusahaan dapat
meningkatkan labanya melalui dua jalur. Jalur pertama yaitu jalur pasar, yakni
perusahaan dapat memperbaiki posisi persaingannya sehingga pangsa pasarnya
semakin besar dan harga jualnya dapat lebih tinggi. Kedua hal ini mengarah pada
meningkatnya penghasilan sehingga laba yang diperoleh semakin besar. Sedangkan
jalur kedua yaitu jalur biaya, yakni perusahaan dapat meningkatkan output yang
bebas dari kerusakan melalui upaya perbaikan kualitas. Hal ini menyebabkan
biaya operasi perusahaan berkurang dan dengan demikian laba yang diperoleh akan
meningkat.
Penerapan Total Quality Management sangat berkaitan erat dengan
kualitas. Kualitas yang dimaksud lebih terfokus pada karakteristik produk atau
jasa, melibatkan pelanggan dan pemasok dimana masukan dari para pelanggan
terhadap produk atau jasa selalu dievaluasi untuk meningkatkan performa dari
produk atau jasa tersebut. Pengendalian kualitas merupakan aktivitas teknik
dari manajemen yang mana berdasarkan aktifitas itu, dapat diukur ciri-ciri
kualitas produk/jasa dan membandingkan dengan spesifikasi atau persyaratan
tertentu, serta mengambil tindakan penyesuaian jika terjadi perbedaan antara
penampilan yang sebenarnya dengan standar yang telah ditentukan.
Dengan pengendalian kualitas diharapkan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi
dapat ditekan serendah mungkin dan proses produksi dapat diarahkan pada tujuan
yang ingin dicapai. Diharapkan pula proses yang baik sejak awal akan
menghasilkan produk yang baik, sehingga proses produksi harus stabil dan dalam
batas-batas kontrol agar sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan.
Nasution (2005:178) mengatakan bahwa peningkatan kualitas berbanding lurus
dengan peningkatan biaya, sehingga ketika manajemen memutuskan untuk
meningkatkan kualitas, secara otomatis biaya akan meningkat. Pandangan ini
dianggap keliru oleh para pioner kualitas karena dalam paradigma baru dikatakan
bahwa kualitas tidak memerlukan biaya (quality has no cost). Dalam
prakteknya, ketika pada saat produk/jasa dihasilkan dan ternyata masih ada
barang yang cacat atau pelayanan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan
makakesalahan tersebut akan menjadi pemborosan bagi perusahaan karena
dibutuhkan biaya perbaikan atau terjadi konsumen komplen terhadap jasa
pelayanan tersebut sehingga menyebabkan citra dari perusahaan menjadi buruk dan
berdampak konsumen manjadi tidak loyal. Tapi, ketika peningkatan kualitas dan
“maintenance” terhadap kualitas tersebut senantiasa dijaga, maka hal-hal yang
tidak diinginkan tersebut justru dapat dihindari.
Hotel Grage Horizon Bengkulu merupakan jenis usaha yang bergerak di bidang jasa
penginapan, lokasi Hotel Grage Horizon Bengkulu berada di tengah Kota Bengkulu
dan dekat dengan pesisir pantai. Hotel Grage Horizon Bengkulu berdiri sejak 07
Agustus 1991 dan berada di bawah naungan Grage Group memberikan pelayanan hotel
bintang tiga. Hotel ini dilengkapi dengan 58 kamar mulai dari deluxe garasi,
deluxe parking, deluxe sea vie, swimming pool view, sea view room, junior
suite, business suite, horizon suite, grage suite dan president suite.
Dengan begitu banyaknya kamar, tentunya kualitas dari pelayanan harus tetap
terjaga. Hal ini tentu saja menjadi tantangan bagi pihak hotel, khususnya
departemen dari kamar tersebut, karena faktor kualitas menjadi hal yang harus
benar-benar diperhatikan dalam setiap memberikan jasa pelayanan. Strategi
kebijakan mutu pelayanan yang diterapkan diharapkan mampu mengefisiensikan
biaya, sehinggakomplain-komplain dari pelanggan nol (zero defect) bisa
tercapai dan menjadi standar kerja.Berdasarkan uraian latar belakang masalah di
atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Pengaruh
Penerapan Total Quality Mangementterhadap Efisiensi Biaya dan
Efektivitas Pelayanan pada Departemen Kamar di Hotel GrageHorizon Bengkulu”
1.2. Rumusan Masalah.
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut diatas, maka penulis merumuskan
masalah sebagai berikut:
- Apakah Total Quality Management berpengaruh
terhadap efisiensi biaya pada Departemen Kamar di Hotel Grage Horizon
Bengkulu?”
- Apakah Total Quality Management berpengaruh
efektivitas pelayanan pada Departemen Kamar di Hotel Grage Horizon
Bengkulu?”
1.3. Batasan Masalah.
Agar penelitian ini tidak menyimpang dari pokok bahasan dan lebih terarah maka
permasalahan ini dibatasi pada pengaruh penerapan Total Quality Manajement (TQM)
terhadap efektivitas pelayanan dan efisiensi biaya.
1.4. Tujuan Penelitian.
Sebagaimana telah dinyatakan dalam rumusan masalah di atas, maka tujuan dari
penelitian ini adalah
- Untuk mengetahui pengaruh penerapan Total Quality
Management terhadap efisiensi biaya pada Departemen Kamar di Hotel
Grage Horizon Bengkulu?”
- Untuk mengetahui pengaruh penerapan Total Quality
Management terhadap efektivitas pelayanan pada Departemen Kamar di
Hotel Grage Horizon Bengkulu?”
1.5. Manfaat Penelitian.
Manfaat yang bisa diperoleh dari penelitian ini adalah:
- Bagi penulis, menambah wawasan dan pengetahuan tentang
bagaimana penerapan Total Quality Management dan pengaruhnya
terhadap biaya dan pelayanan.
- Hotel Grage Horizon Bengkulu, menjadi bahan masukan ataupun
pertimbangan dalam penerapan Total Quality Management dan bagaimana
mengefisiensikan biaya efektivitas pelayanan dengan penerapan Total
Quality Management.
- Bagi peneliti selanjutnya dapat menjadi bahan referensi
dalam pengembangan bagi penelitian selanjutnya.
BAB
II
STUDI
PUSTAKA
2.1.Total Quality Management.
2.1.1. Pengertian dan Konsep Total Quality Management.
Tjiptono (2003:4) mendefinisikan Total Quality Management sebagai “Suatu
pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing
organisasi melalui perbaikan terus-menerus atas produk, jasa, manusia, proses
dan lingkungannya”. Sedangkan Gasperz (2001:5) mendefinisi Total Quality
Managementsebagai “Suatu cara meningkatkan performansi secara terus-menerus
(continuous performance improvement) pada setiap level operasi atau
proses, dalam setiap area fungsional dari suatu organisasi, dengan menggunakan
semua sumber daya manusia dan modal yang tersedia”. Pengertian Total Quality
Management yang diungkapkan para ahli pada umumnya sama, yakni merupakan
sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha dan
berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota
organisasi.
Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa Total Quality Management
merupakan pendekatan manajemen sistematik yang berorientasi pada organisasi,
pelanggan, dan pasar melalui kombinasi antara pencarian fakta praktis dan
penyelesaian masalah guna menciptakan peningkatan secara signifikan dalam
kualitas, produktifitas dan kinerja lain dalam perusahaan. Dasar pemikiran
diperlukannya Total Quality Management sangatlah sederhana, yakni bahwa
cara yang terbaik agar dapat bersaing dan unggul dalam persaingan global adalah
dengan menghasilkan kualitas yang terbaik. Untuk menghasilkan kualitas yang
terbaik diperlukan upaya perbaikan berkesinambungan terhadap kemampuan manusia,
proses dan lingkungan. Cara terbaik agar dapat memperbaiki kemampuan
komponen-komponen tersebut secara berkesinambungan adalah dengan menerapkan Total
Quality Management. Penerapan Total Quality Management dalam suatu
perusahaan dapat memberikan beberapa manfaat utama yang pada gilirannya
meningkatkan laba serta daya saing perusahaan yang bersangkutan, sehingga
diperlukan perubahan besar dalam budaya dan sistem nilai suatu organisasi.
2.1.2. Prinsip-Prinsip Total Quality Management.
Menurut Hensler dan Brunellin yang dikutip oleh Tjiptono (2003: 14-15) ada
empat prinsip utama dalam Total Quality Management. Keempat Prinsip
tersebut adalah:
1. Kepuasan Pelanggan
Dalam Total Quality Management, konsep mengenai kualitas dan pelanggan
diperluas. Kualitas tidak hanya bermakna kesesuaian dengan spesifikasi
tertentu, tetapi kualitas tersebut ditentukan oleh pelanggan. Kebutuhan
pelanggan diusahakan untuk dipuaskan dalam segala aspek, termasuk dalam harga,
keamanan, dan ketepatan waktu.
2. Respek terhadap setiap orang.
Dalam perusahaan berkualitas, setiap karyawan dipandang sebagai individu yang
memiliki talenta dan kreatifitas yang khas. Dengan demikian, karyawan merupakan
sumber daya organisasi yang paling bernilai. Oleh karena itu, setiap orang
dalam organisasi diperlukan dengan baik dan diberikan kesempatan untuk terlibat
dan berpartisipasi dalam tim pengambil keputusan.
3. Manajemen Berdasarkan Fakta
Perusahaan kelas berkualitas berorientasi pada fakta, maksudnya bahwa setiap
keputusan selalu didasarkan pada data, bukan sekedar pada perasaan. Ada dua
konsep pokok yang berkaitan dengan hal ini: (1) prioritas, yakni suatu konsep
yang menyatakan bahwa perbaikan tidak dapat dilakukan pada semua aspek pada
saat yang bersamaan, mengingat keterbatasan sumber daya yang ada; (2) variasi
atau variabilitas kinerja manusia, variasi/variabilitas (keragaman) kinerja/kemampuan
dari setiap anggota merupakan bagian yang wajar dari setiap sistem organisasi.
Maksudnya, setiap perbedaan yang terjadi dikaji, kemudian ditetapkan
langkah/kebijakan yang paling sesuai untuk diterapkan. Dengan demikian,
manajemen dapat memprediksikan hasil dari setiap keputusan dan tindakan yang
dilakukan.
4. Perbaikan yang berkesinambungan
Agar dapat sukses, setiap perusahaan perlu melakukan proses sistematis dalam
melaksanakan perbaikan secara berkesinambungan. Konsep yang berlaku disini adalah
siklus PDCAA (plan-do-check-act-analyze), yang terdiri dari
langkah-langkah perencanaan, dan melakukan tindakan koreksi terhadap hasil yang
diperoleh.
2.1.3. Elemen-Elemen dalam Total Quality Management.
Nasution (2005:324) mengemukakan The Malcolm Balridge National Award (1987)
yang merupakan salah satu pengesahan mutu untuk mengakui Total Quality
Management sebagai bagian penting dari strategi usaha, dimana The Malcolm
Balridge National Award ini berfokus pada sistem manajemen mutu terpadu dan
menghasilkan perbaikan sistem mutu. Konsep-konsep penting dalam kriteria
pengujian penghargaan Malcolm Balridge (sejak tahun 1987 s/d sekarang) adalah
sebagai berikut:
1) Mutu adalah didefinisikan oleh pelanggan
2) Kepemimpinan senior usaha perlu menciptakan
nilai mutu yang jelas dan membangun nilai kedalam care perusahaan
3) Keunggulan mutu diperoleh dari sistem dan
proses yang didesain dengan baik dan dilaksanakan dengan baik.
4) Perbaikan yang berkesinambungan harus
merupakan bagian dari manajemen serta semua sistem dan proses
5) Perusahaan perlu mengembangkan tujuan serta
juga rencana strategik dan operasional untuk mencapai kepemimpinan mutu.
6) Memperpendek waktu tanggapan dari semua
operasi dan proses dari kebutuhan perusahaan sebagai bagian usaha perbaikan
mutu.
7) Operasi dan keputusan perusahaan harus
didasarkan pada fakta dan data
8) Semua karyawan harus secara tepat dilatih dan
dikembangkan serta dilibatkn dalam aktifitas mutu.
9) Mutu desain dan pencegahan kesalahan harus
merupakan unsur utama dalam sistem mutu
10) Perusahaan perlu mengkomunikasikan persyaratan mutu kepada pemasok
dan bekerja untuk meningkatkan kinerja mutu pemasok
Kriteria mutu Malcolm Balridge berfokus pada 7 area topik yang menjadi elemen
dari Total Quality Management yang secara integral dan dinamis
berhubungan (Nasution 2005:326) yaitu sebagai berikut:
1.Kepemimpinan (Leadership)
Total Quality Management dapat dilaksanakan jika semua manajer di setiap
lini menerapkan Total Quality Management sebagai suatu filosofi dengan
menyusun sasaran dan merencanakan strateginya.
2. Informasi dan Analisis (Information and analysis)
Setiap kejadian yang berhubungan dengan kualitas menjadi informasi yang sangat
penting, informasi tersebut kemudian dikaji dan di evaluasi sehingga efisiensi
dapat tercapai.
- Perencanaan Kualitas Strategis (Strategic Quality
Planning)
Perencanaan adalah sesuatu yang
sangat penting, untuk itu harus disusun secara matang. Tanpa perencanan maka
tidak dapat diukur efektivitas pelaksanaannya.
3. Pengembangan Sumber Daya Manusia (Human Resource Management)
Karyawan dalam perusahaan dituntut keterlibatannya secara penuh. Tanpa
keterlibatan dan partisipasi penuh, maka filosofi tersebut tidak akan berjalan
dengan baik. Untuk itu kepuasan kepada karyawan adalah salah satu cara
melibatkan mereka dalam seluruh kegiatan perusahaan.
4. Manajemen Kualitas Proses (Management Quality Process)
Hal ini meliputi pendesainan dan pengenalan kualitas dan pelayanan. Pihak
manaajemen juga akan terus mengadakan proses perbaikan terus menerus
5. Hasil-hasil Kualitas (Quality Result)
Hasil-hasil kualitas diketahui melalui survey pendahuluan yang bersifat
eksploratif, diidentifikasi melalui semua atribut produk yang menentukan
kepuasan pelanggan dan persepsi pelanggan tentang kualitas produk.
6. Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction)
Kepuasan pelanggan adalah tujuan akhir atau batu ujian dari program mutu
gabungan suatu organisasi, yang diintegrasikan petunjuk keunggulan dan
kontinuitas yang menggambarkan mutu total.
2.1.4. Metode-Metode yang digunakan dalam Total Quality Management.
Menurut Nasution (2005:27) bahwa metode Total Quality Mangement berfokus pada
tiga pakar yang merupakan pionir dalam pengembangan Total Quality Management,
yaitu:
- Metode Deming
Metode yang terkenal dengan Siklus
Deming (Deming Cycle), yang dikembangkan untuk menghubungkan antara
operasi dengan kebutuhan pelanggan dan memfokuskan sumber daya semua bagian
dalam perusahaan (riset, desain, operasi, dan pemasaran) secara terpadu dan
sinergi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Siklus Deming adalah model
perbaikan berkesinambungan yang dikembangkan oleh W. Edward Deming yang terdiri
atas empat komponen utama secara berurutan, seperti gambat berikut:
Gambar
2.1.
Siklus
Deming
Sumber:
Nasution (2004)
Dalam siklus ini dijelaskan bahwa:
- Perencanaan merupakan hal yang harus menjadi fokus
pertaman, yang disusun berdasarkan prinsip-prinsip seperti menerapkan apa,
mengapa, siapa, dimana dan bagaimana suatu hal harus diperbaiki.
- Setelah rencana tersebut disusun,maka pelaksanaan
rencana tersebut dilakukan secara bertahap.
- Rencana telah dilakukan, setelah itu, tindakan evaluasi
dilakukan untuk melihat apakah rencana tersebut memberi dampak baik atau
sebaliknya.
- Selanjutnya tindakan penyesuaian dilakukan bila dinggap
perlu berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan.
- Metode Juran
Juran mendefinisikan kualitas
sebagai cocok/sesuai untuk digunakan (fitness for use), yang mengandung
pengertian bahwa suatu barang atau jasa harus dapat memenuhi apa yang
diharapkan oleh para pemakainya. Pengertian cocok untuk digunakan ini
mengandung 5 dimensi utama yaitu kualitas desain, kualitas kesesuaian,
ketersediaan, keamanan dan kebutuhan lapangan.
Juran mencetuskan The Juran Trilogy yaitu:
1. Perencanaan kualitas
Perencanaan kualitas meliputi pengembangan produk, sistem dan proses yang
dibutuhkan untuk memenuhi atau melampaui harapan pelanggan.
2. Pengendalian kualitas
Pengendalian kualitas dilakukan dengan menilai kinerja kualitas aktual,
membandingkan kinerja dan tujuan, dan bertindak berdasarkan perbedaan antara
kinerja dan tujuan
3. Perbaikan kualitas
Perbaikan kualitas harus dilakukan secara terus menerus dilakukan dengan
mengembangkan infrastruktur yang diperlukan untuk melakukan perbaikan kualitas
setiap tahun, mengidentifikasi bagian-bagian yang membutuhkan perbaikan dan
melakukan proyek perbaikan, membentuk dan memfasilitasi suatu tim proyek yang
bertanggung jawab dalam menyelesaikan proyek perbaikan.
4. Metode Crosby
Pandangan-pandangan Crosby yang dirangkumnya dalam ringkasan yang ia sebut
sebagai dalil-dalil manajemen kualitas, yaitu:
- Dalil pertama: Kualias adalah persyaratan.
Pada awalnya kualitas diterjemahkan sebagai tingkat kebaikan (goodness).
Definisi ini memiliki kelemahan, yaitu tidak menerangkan secara spesifik
bagaimana yang disebut baik itu. Definisi kualitas menurut Crosby adalah sebuah
persyaratan (conformance to requirements). Maksudnya, kurang sedikit
saja dari persyaratannya, maka suatu barang atau jasa dikatakan tidak
berkualitas. Persyaratan itu sendiri dapat berubah sesuai dengan keinginan
pelanggan, kebutuhan organisasi, pemasok dan sumber, pemerintah, teknologi
serta pasar persaingan.
- Dalil kedua: Sistem kualitas adalah pencegahan
Untuk menghindari pemborosan biaya pada akhir proses, maka sebaiknya dilakukan
pencegahan sejak awal sehingga outputnya dijamin bagus serta hemat biaya dan
waktu. Atas dasar itulah sistem kalitas menurut Crosby merupakan pencegahan.
- Dalil ketiga: Kerusakan Nol (zero defect) merupakan standar kerja.
Konsep yang berlaku di masa lalu adalah konsep yang mendekati (close enough
concept), misalnya efisiensi mesin mendekati 95%, tetapi bila dihitung
besarnya efisiensi 50% dikalikan dengan penjualan maka akan didapat nilai yang
cukup besar. Crosby mengjukan konsep kerusakan nol (zero defect) yang
menurutnya dapat tercapai bila perusahaan melakukan sesuatu dengan benar sejak
awal proses dan setiap kali proses.
- Dalil keempat: Ukuran kualitas adalah price of non conformane
Kualitas merupakan sesuatu yang dapat diukur. Biaya untuk menghasilkan kualitas
juga harus terukur. Menurut Crosby, biaya mutu merupakan penjumlahan antara price
of non conformance dan price of conformance.
2.1.5. Manfaat dan Keunggulan Total Quality Management.
Ada banyak manfaat Total Quality Management yang efektif, tetapi hal
tersebut hanya dapat direalisasikan oleh perusahaan yang benar-benar mengenal Total
Quality Management itu sendiri. Total Quality Management menyita
waktu dan sulit menerapkan sistem hasil pertimbangan sempurna yang sesuai
dengan perusahaan dan yang dapat memajukan tujuan-tujuan bisnis.
Nasution (2005:42) menyebutkan beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari
penerapan Total Quality Management yang berhasil sangat besar
diantaranya:
- Perbaikan kepuasan pelanggan
- Penghapusan kesalahan-kesalahan dan pemborosan
- Peningkatan dorongan semangat kerja dan tanggung jawab
pegawai
- Peningkatan profitabilitas dan daya saing.
Menurut Nasution (2005:43) manfaat
atau pengaruh Total Quality Management dikelompokkan menjadi dua yaitu
dapat memperbaiki posisi persaingan (manfaat rute pasar) dan meningkatkan
keluaran bebas dari kerusakan (manfaat rute biaya).
Manfaat dan pengaruhnya tampak pada gambar berikut:
Gambar
2.2
Tujuan
Perbaikan Kualitas
Sumber :
Nasution (2005)
Total Quality Management memberikan jaminan bagi pelanggan, bahwa perusahaan
mempunyai tanggung jawab tentang kualitas dan mampu menyediakan produk dan jasa
sesuai dengan kebutuhan mereka. Sebuah perusahaan yang memhami mengapa mereka
memperkenalkan Total Quality Management dapat menerapkan suatu sistem
yang fleksibel yang cocok bagi mereka sendiri dan menyadari manfaat serta
keefektifan yang dihasilkan Total Quality Management.
Gasperz (2001:266) menyebutkan keunggulan-keunggulan perusahaan yang menerapkan
Total Quality Managementadalah:
1. Total Quality Management mengembangkan konsep kualitas dengan
pendekatan totalitas
Inisiatif untuk peningkatan kualitas harus dimulai dengan adanya pemahaman
terhadap persepsi dan kebutuhan pelanggan. Dalam hal ini, kualitas tidak dapat
dipandang dalam arti yang sempit dan hanya dari segi produk yang dihasilkan
perusahaan, tetapi juga harus dipandang sebagai keseluruhan aspek dari
perusahaan.
2. Adanya perubahan dan perbaikan secara terus-menerus
Dengan menerapkan Total Quality Management, perusahaan dituntut untuk
terus belajar dan berubah memperbaiki atau meningkatkan kemampuannya.
3. Adanya upaya pencegahan kerusakan produk
Adanya upaya pencegahan ini arinya sejak dari perancangan produk, proses
produksi hingga menjadi produk akhir, yang kemudian akan menghasilkan produk
yang baik tanpa produk yang cacat (zero defect) sehingga perusahaan
mampu mengurangi biaya (cost reduction), menghindari pemborosan dan
menghasilkan produk secara efektif dan efisien dan pada akhirnya dapat
meningkatkan profit bagi perusahaan.
2.2Biaya
2.2.1 Pengertian Biaya Kualitas
Biaya kualitas adalah biaya yang terjadi atau mungkin akan terjadi karena kualitas
yang buruk. Menurut Blocher, dkk (2000:220), biaya kualitas didefinisikan
sebagai biaya-biaya yang berkaitan dengan pencegahan, pengidentifikasian,
perbaikan produk yang berkualitas rendah dan dengan opportunity cost
dari hilangnya waktu produksi dan penjualan sebagai akibat dari rendahya
kualitas. Jadi biaya kualitas adalah biaya yang berhubungan dengan penciptaan,
pengidentifikasian, perbaikan, dan pencegahan kerusakan. Biaya kualitas
merupakan biaya yang terjadi karena adanya kesadaran akan perlunya menghindari
kesalahan sehingga tidak terjadi pemborosan atau biaya yang terjadi karen
adanya kesalahan pada produk yang sudah terlanjur terjadi dan harus diperbaiki.
2.2.2. Jenis-Jenis Biaya Kualitas.
Menurut Russel yang dikutip oleh Ariani (2004:9), biaya kualitas digolongkan
dalam dua golongan besar, yaitu:
1. Cost Of Conformance
Biaya yang termasuk dalam cost of conformace adalah biaya pencegahan dan
biaya penilaian, karena biaya-biaya tersebut terjadi dalam rangka memastikan
kualitas produk sesuai dengan keinginan pelanggan.
2. Biaya pencegahan (prevention cost)
Biaya pencegahan merupakan biaya yang terjadi untuk mencegah kerusakan produk
yang dihasilkan (mencegah cacat kualitas) atau semua biaya yang berkaitan
dengan setiap kegiatan yang dirancang untuk memastikan bahwa kegiatan-kegiatan
yang tepat dilaksanakan dengan benar sejak pertama kali. Biaya pencegahan
meliputi:
1) Biaya pelatihan kualitas, yaitu
pengeluaran-pengeluaran untuk program-program pelatihan internal dan eksternal.
2) Biaya Teknik dan perencanaan kualitas, yaitu
biaya-biaya yang dikeluarkan untuk aktifitas-aktifitas yang berhubungan dengan
patokan rencana kualitas produk yang dihasilkan.
3) Biaya pemeliharaan peralatan, yaitu biaya yang
dikeluarkan untuk memasang, menyesuaikan, mempertahankan, memperbaiki, dan
menginspeksi peralatan produksi, proses dan sistem.
4) Biaya penjaminan supplier, yaitu biaya yang
dikeluarkan untuk mengembangkan kebutukan dan pengukuran data, auditing dan
pelaporan kualitas.
3. Biaya penilaian (Detection/Appraisal Cost)
Biaya penilaian dikeluarkan dalam rangka pengukuran dan analisis data untuk
menentukan apakah produk atau jasa sesuai dengan spesifikasinya dan
persyaratan-persyaratan kualitas. Tujuan utama penilaian adalah untuk
menghindari terjadinya kesalahan dan kerusakan sepanjang proses perusahaan,
misalnya mencegah pengiriman barang-barang yang tidak sesuai dengan persyaratan
kepada pelanggan. Biaya ini meliputi:
1) Biaya pengujian dan inspeksi, yaitu biaya yang
dikeluarkan untuk menguji dan menginspeksi kesesuaian barang yang akan datang,
produk dalam proses dan produk selesai dengan kualifikasi yang tercantum dalam
pesanan
2) Peralatan pengujian, yaitu biaya yang
dikelurkan untuk memperoleh, mengoperasikan, atau mempertahankan kualitas,
software, mesin dan peralatan pengujian atau penilaian kualitas produk dan
proses
3) Audit kualitas, yaitu biaya yang meliputi
pemeriksaan kualitas produk, seperti gaji dan upah semua orang yang terlibat
dalam penilaian kualitas produk dan jasa dan pengeluaran lain yang dikeluarkan
selama penilaian kualitas.
4) Evaluasi persediaan, yaitu biaya yang meliputi
pengujian produk di gudang, dengan tujuan untuk mendeteksi terjadinya penurunan
kualitas produk
5) Biaya informasi, yaitu biaya yang dikeluarkan
untuk menyiapkan dan membuktikan laporan kualitas.
4. Cost Of Non Conformance
Biaya yang termasuk kedalam Cost of Non Conformance adalah biaya
kegagalan internal dan ekternal karena biaya-biaya tersebut merupakan biaya
yang dikeluarkan karena menghasilkan produk yang cacat dan opportunity cost
karena ditolaknya produk atau jasa.
- Biaya Kegagalan Internal (Internal Failure Cost)
Merupakan biaya yang terjadi karena
adanya ketidaksesuaian dengan persyaratan atau biaya yang dikeluarkan karena
rendahnya kualitas yang ditemukan sejak penilaian awal dan sebelum barang atau
jasa dikirimkan kepada pelanggan. Pengukuran biaya kegagalan internal dilakukan
dengan menghitung kerusakan produk sebelum meninggalkan pabrik.
Biaya kegagalan internal meliputi:
1) Biaya tindakan koreksi, adalah biaya untuk
waktu yang dihabiskan untuk menemukan penyebab kegagalan dan untuk mengoreksi
masalah
2) Sisa bahan, adalah kerugian yang timbul karena
adanya sisa bahan baku yang tidak terpakai dalam upaya memenuhi tingkat
kualitas yang dikehendaki.
3) Biaya pengerjaan kembali, adalah biaya yang
timbul untuk melakukan proses pengerjaan ulang agar dapat memenuhi standar
kualitas yang disyaratkan.
4) Biaya proses, adalah biaya yang dikeluarkan
untuk mendesain ulang produk atau proses dan pemberhentian mesin yang tidak
direncanakan dan gagalnya produksi karena adanya penyelaan proses untuk
perbaikan dan pengerjaan kembali
5) Biaya ekspedisi, adalah biaya yang dikeluarkan
untuk mempercepat operasi pengolahan karena adanya waktu yang dihabiskan untuk
perbaikan dan pengerjaan kembali
6) Biaya inspeksi dan pengujian ulang, adalah
biaya yang dikeluarkan selama inspeksi ulang atau pengujian ulang atas
produk-produk yang telah diperbaiki
7) Factory Contact Engineering, adalah
biaya yang berhubungan dengan waktu yang digunakan oleh para ahli produk atau
produksi yang terlibat dalam masalah-masalah produksi yang menyangkut kualitas.
2. Biaya Kegagalan Eksternal (External Failure Cost)
Biaya kegagalan eksternal adalah biaya yang terjadi karena produk atau jasa
gagal memenuhi persyaratan-persyaratan yang diketahui setelah produk itu
dikirimkan kepada pelanggan, seperti biaya dalam rangka meralat cacat kualitas
setelah produk sampai ke pelanggan dan laba gagal yang diperoleh karena
hilangnya peluang sebagai akibat adanya produk atau jasa yang tidak dapat
diterima oleh pelanggan. Biaya ini merupakan biaya yang paling membahayakan
karena dapat membuat reputasi buruk , kehilangan pelanggan dan kehilangan
pangsa pasar.
Biaya kegagalan eksternal meliputi:
1) Biaya untuk menangani keluhan dan pengembalian
dari pelanggan, biaya ini meliputi semua biaya yang ditimbulkan karena adanya
keluhan-keluhan tertentu, sehingga diperlukan pemeriksaan, reparasi atau
penggantian/penukaran produk. Biaya penanganan keluhan ini dibedakan antara
yang masih bergaransi dan masa garansinya sudah lewat.
2) Pelayanan (service) produk, adalah
biaya yang dikeluarkan akibat dari usaha untuk memperbaiki ketidaksempurnaan
atau untuk pengujian khusus atau untuk memperbaiki yang cacat yang bukan
disebabakan oleh adanya keluhan pelanggan.
3) Biaya penarikan kembali dan pertanggung
jawaban produk, biaya untuk menangani pengembalian produk, perbaikan atau
penggantian, biaya hukum atau biaya penyelesaian hukum.
4) Penjualan yang hilang karena produk yang tidak
memuaskan, margin kontribusi yang hilang karena pesanan yang tertunda,
penjualan yang hilang dan menurunnya pangsa pasar.
Hansen dan Mowen (2005:8) mendefinisikan kegiatan-kegiatan yang berhubungan
dengan kualitas juga menunjukkan empat kategori biaya, yaitu:
- Biaya pencegahan (prevention cost), yaitu biaya
untuk mencegah kerusakan atau cacat produk.
- Biaya penilaian (appraisal cost), yaitu biaya
yang harus dikeluarkan untuk mengadakan pengujian terhadap produk yang
dihasilkan.
- Biaya kegagalan internal (internal failure cost),
yaitu biaya yang harus dikeluarkan karena perusahaan menghasilkan produk
yang cacat, tapi cacat produk tersebut sudah diketahui sebelum produk tersebut
sampai pada pelanggan.
- Biaya kegagalan eksternal (external failure cost),
yaitu biaya yang dikeluarkan perusahaan karena menghasilkan produk yang
cacat, dan produk ini telah diterima oleh konsumen.
2.3.Jasa.
2.3.1.Pengertian Jasa.
Menurut Kotler (l997;467) Jasa adalah setiap tindakan perbuatan yang dapat
ditawarkan oleh satu pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud (intagible)
dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu.
Menurut Tjiptono (2005;6) Jasa merupakan aktifitas, manfaat atau kepuasan yang
ditawarkan untuk dijual. Menurut Lamb, Hair, and Daniel (2001;482) mengemukakan
bahwa jasa adalah hasil dari usaha penggunaan manusia dan mesin terhadap
sejumlah orang atau objek.
Menurut Kotler & Armstrong (2001;11) jasa merupakan segala aktivitas atau
manfaat yang dapat ditawarkan oleh suatu kelompok kepada yang lainnya, yang
pada dasarnya tidak nyata dan tidak berakibat pada kepemilikan apapun.
Sedangkan menurut Lupiyoadi & Hamdani (2006;6) mendefinisikan jasa sebagai
berikut : setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak
kepada pihak lain, pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan
kepemilikan apa pun. Produksi jasa bisa berkaitan dengan produk fisik atau
sebaliknya.
Dari pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa jasa merupakan sesuatu
yang tidak dapat disentuh dan tidak dapat dirasa dan jasa merupakan sesuatu
yang tidak mudah didefinisikan, diformulasikan, atau dipahami secara rohania.
Seseorang tidak dapat menilai hasil dari jasa sebelum ia menikmatinya. Bila
pelanggan membeli, maka ia hanya menggunakan, memanfaatkan, atau menyewa jasa
tersebut.
2.3.2. Karakteristik Jasa.
Menurut Tjiptono (2005;15) ada empat karakteristik pokok pada jasa yang
membedakannya dengan barang. Keempat karakteristik tersebut adalah :
- Intangibility,
jasa berbeda dengan barang, jika barang merupakan suatu objek, alat, atau
benda, maka jasa adalah suatu perbuatan, kinerja atau usaha. Bila barang
dapat dimiliki maka jasa hanya dapat dikonsumsi tetapi tidak dapat
dimilki. Jasa bersifat intangible, artinya tidak dapat dilihat, dirasa,
diraba, dicium, atau didengar sebelum dibeli.
- Inseparability,
Barang biasanya diproduksi, kemudian dijual, lalu dikonsumsi. Sedangkan
jasa biasanya dijual terlebih dahulu, baru kemudian diproduksi dan
dikonsumsi secara bersamaan. Interaksi antar penyedia jasa dan pelanggan
merupakan ciri khusus dalam pemasaran jassa. Keduanya mempengaruhi hasil
dari jasa tersebut. Dalam hubungannya penyedia jasa dan pelanggan ini,
efektifitas individu yang menyampaikan jasa merupak unsur yang penting.
- Variability,
jasa bersifat sangat variabel karena merupakan nonstandardized output,
artinya banyak variasi bentuk, kualitas dan jenis, tergantung pada siapa,
kapan, dan dimana jasa tersebut dihasilkan.
- Perishability,
jasa merupakan komoditas tidak tahan lama dan tidak dapat disimpan.
Menurut Lupiyoadi & Hamdani
(2006;6) menyebutkan karakteristik jasa sebagai berikut :
- Intangibility
(tidak berwujud). Jasa tidak dapat dilihat, dirasa, diraba, didengar, atau
dicium sebelum jasa itu dibeli. Nilai penting dari hal ini adalah nilai
tak berwujud yang dialami konsumen dalam bentuk kenikmatan, kepuasan, atau
kenyamanan.
- Unstorability
(tdak dapat disimpan). Jasa tidak mengenal persediaan atau penyimpanan
dari pokok yang telah dihasilkan. Karakteristik ini disebut juga
inseparability (tidak dapat dipisahkan), mengingat pada umumnya jasa
dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan.
- Customization
(kustomisasi). Jasa sering kali didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan
pelanggan.
2.3.3. Kualitas jasa.
Menjadi organisasi yang fokus pada konsumen adalah pilihan strategi bagi
industri dan dunia usaha agar mampu bertahan ditengah situasi lingkungan ekonomi
yang memperlihatkan kecenderungan tidak menentu, perubahan demi perubahan,
persaingan tinggi dan semakin canggihnya kualitas hidup. Salah satu cara adalah
dengan menciptakan kepuasan pelanggan melalui peningkatan kualitas, karena
pelanggan adalah fokus utama ketika kita mengukap tentang kepuasan dan kualitas
jasa.
Menurut Tjiptono (2005;51) mendefinisikan kulitas sebagai suatu kondisi dinamis
yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang
memenuhi atau melebihi harapan.
Menurut Lupiyoadi & Hamdani (2006;175) kualitas menurut ISO 9000 adalah: “degree
to which a set of inherent characteristics fulfils requipments” (derajat
yang dicapai oleh karakteristik yang inheren dalam memenuhi persyaratan).
Persyaratan dalam hal ini adalah : “need or expection that is stated,
generally implied or obligatory” (yaitu kebutuhan harapan yang dinyatakan,
biasanya tersirat wajib). Jadi kualitas sebagaimana yang diinterprestasikan ISO
9000 merupakan perpaduan antara sifat dan karakteristik yang menentukan sejauh
mana keluaran dapat memenuhi persyaratan kebutuhan pelanggan. Pelanggan yang
menentukan dan menilai sampai seberapa jauh sifat dan karakteristik itu
memenuhi kebutuhan.
Definisi kualitas jasa berpusat pada upaya pemahaman kebutuhan dan keinginan
serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan pelanggan.
Menurut Tjiptono (2005;59) kualitas jasa adalah tingkat keunggulan yang
diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi
keinginan pelanggan. Menurut Lupiyoadi & Hamdani (2006;181) kualitas jasa
dapat didefinisikan sebagai seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan
harapan pelanggan atas layanan yang mereka terima.
2.3.4. Dimensi Kualitas Jasa.
Dalam perusahan penyedia jasa, kualitas layanan sangat penting karena selain
dari produk, kualitas layanan sangat menentukan apakah pelanggan akan berpindah
pada penyedia jasa lain atau tidak.
Menurut Zeitthaml, Berry (dalam Parasuraman,1994;40) mendefinisikan kualitas
layanan sebagai berikut : Kualitas layanan adalah persepsi pelanggan terhadap
keunggulan jasa. Terdiri dari lima dimensi yang digunakan oleh pelanggan dalam
menilai Kualitas layanan, antara lain:
- Tangibles (bukti fisik)
Berhubungan dengan penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik dan
dapat diandalkan, keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti nyata dari
pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh si pemberi jasa seperti gedung bagus,
peralatan komputer yang canggih, kenyamanan ruangan dan sebagainya
- Reliability (keandalan)
Suatu kemampuan untuk memberikan jasa yang dijanjikan dengan akurat dan
terpercaya. Kinerja harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti
ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk semua pelanggan dan tanpa kesalahan
- Responsiveness (ketanggapan)
Merupakan suatu kebijakan untuk membantu memberikan pelayanan yang cepat
(responsif) kepada pelanggan, membiarkan konsumen menunggu tanpa adanya suatu
alasan yang jelas menyebabkan persepsi yang negatif dalam kualitas layanan.
Pada peristiwa pelayanan yang gagal, kemampuan untuk mengatasi hal tersebut
secara profesional dapat memberikan persepsi yang positif terhadap kualitas
layanan
- Assurance (kepastian dan jaminan)
Pengetahuan dan keramahan karyawan serta kemampuan untuk melaksanakan tugas
secara spontan yang dapat menjamin kinerja yang baik sehingga menimbulkan
kepercayaan dan keyakinan pelanggan.
- Emphaty (perhatian)
Memberikan perhatian yang bersifat individual atau pribadi kepada pelanggan dan
berupaya untuk memahami keinginan konsumen atau pelanggan.
Implementasi kualitas layanan berpusat pada upaya pemenuhan kebutuhan dan
keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan
pelanggan. Kualitas layanan merupakan tingkat keunggulan yang diharapkan dan
pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan
pelanggan.
Jika jasa diterima melampaui harapan pelanggan maka kualitas layanan
dipersepsikan sebagai kualitas yang ideal. Sebaliknya jika jasa yang diterima
lebih rendah daripada yang dihadapkan, maka kualitas layanan dipersepsikan
buruk.
Dalam perkembangannya menurut Lamb, Hair, Daniel (2001;485) dimensi jasa
meliputi :
- Tangible
merupakan bukti fisik jasa, meliputi fasilitas fisik, perkakas, dan
peralatan yang digunakn untuk menghasilkan.
- Reliability
sebagai kemampuan menyelenggarakan jasa dengan dapat diandalkan, akurat
dan konsisten.
- Responsiveness
adalah kemampuan untuk memberi pelayanan segera.
- Assurance adalah
pengetahuan dan kesopanan karyawan serta kemampuan untuk menjaga
kepercayaan.
- Emphaty adalah
memperhatikan konsumen secara individu.
Dengan demikian maka baik atau
buruknya kualitas jasa tergantung pada kemampuan penyedia jasa dalam memenuhi
harapan pelanggannya secara konsisten.
2.4. Hubungan Total Quality Management Terhadap Biaya Kualitas dan
Kualitas Pelayanan.
Menurut Ross dalam Nasution (2005:17) bahwa dewasa ini ada tiga kategori
pandangan yang berkembang diantara para praktisi mengenai biaya kualitas,
yaitu:
- Kualitas yang makin tinggi berarti biaya yang semakin
tinggi pula.
- Biaya peningkatan kualitas lebih rendah daripada
penghematan yang dihasilkan
- Biaya kualitas merupakan biaya yang besarnya melebihi
biaya yang terjadi apabila produk atau jasa yang dihasilkan secara benar
sejak awal.
Hadirnya Total Quality Management
memberi pendapat bahwa zero defect harus menjadi sasaran perusahaan.
Perusahaan seharusnya menganalisis penyebab semua kesalahan dan mengambil
tindakan untuk memperbaikinya. Terdapat perbedaan antara pandangan tradisional
dan Total Quality Management. Berdasarkan pendekatan tradisional, biaya
terendah dicapai pada level non zero defect. Pendukung pandangan ini
berpendapat bahwa biaya untuk mengatasi kesalahan meningkat dengan semakin
banyaknya kesalahan yang terdeteksi dan berkurang apabila ada sedikit kesalahan
yang dibiarkan.
Sebaliknya, Total Quality Management berpendapat bahwa biaya terendah
dicapai pada level zero defect. Pendukung pandangan ini berpendapat
bahwa meskipun kesalahan yang ada itu jumlahnya besar, tetapi hal ini tidak
memerlukan lebih banyak biaya untuk memperbaiki kesalahan yang terakhir
tersebut dibandingkan dengan mengkoreksi kesalahan pertama. Oleh karena itu
biaya total menurun terus sampai kesalahan terakhir diatasi. Dalam hal ini Total
Quality Management berpendapat bahwa kualitas tanpa biaya.
Tampak bahwa Total Quality Management sangat berkaitan dengan biaya
karena dengan peningkatan kualitas pelayanan maka perusahaan dapat menekan
biaya, terutama dalam mengurangi atau menghilangkan pemborosan. Penekanan biaya
yang lain adalah karena perusahaan tidak menghasilkan produk cacat.
2.5. Kerangka Konsep.
Kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori
berhubungan dengan berbagai faktor yang diidentifikasikan sebagai masalah
penting. Kerangka konseptual akan menghubungkan secara teoritis variabel-variabel
penelitian, yaitu variabel independen dengan dependen.
Dalam penelitian ini, variabel independen adalah Total Quality
Management sedangkan variabel dependennya adalah Efisiensi Biaya dan
Efektifitas Pelayanan Adapun kerangka konseptual dalam penelitian ini
dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar
2.3
Kerangka
Konseptual
Independent
Dependent
Keterangan :
TQM
= Variabel
Independent (X)
Efesiensi Biaya =
Variabel Dependent (Y1)
Efektivitas Pelayanan = Variabel Dependent (Y2)
2.6 Definisi Operaisonal Variabel Penelitian.
Tabel 2.1
Definisi
Operasional Variabel Penelitian
|
Variabel
|
Definisi
|
Indikator
|
Skala pengukuran
|
|
Variabel Independent (X) :Total
Quality Manajement (TQM)
|
Usaha untuk memaksimumkan daya
saing organisasi melalui perbaikan terus-menerus atas produk, jasa, manusia,
proses dan lingkungannya pada Departemen Kamar di Hotel Grage Horizon
Bengkulu.
|
- Kepemimpinan
- Analisis dan Info
- PerencanaanKualitas strategis
- Pengembangan Sumber daya
Manusia
- Manajemen Kualitas dan proses
- Hasil-hasil Kualitas
- Kepuasan Pelanggan
|
Likert
|
|
Variabel Dependent (Y1)
: Efisiensi Biaya Kualitas
|
Biaya yang berhubungan dengan
penciptaan, pengidentifikasian, perbaikan dan pencegahan kerusakan pada
Departemen Kamar di Hotel Grage Horizon Bengkulu.
|
- BiayaPencegahan
- Biaya Penilaian
- Biaya kegagalan internal
- Biaya kegagalanEksternal
|
Likert
|
|
Variabel Dependen (Y2):Efektivitas
Pelayanan
|
Sesuatu yang tidak dapat disentuh
dan tidak dapat dirasa dan jasa merupakan sesuatu yang tidak mudah
didefinisikan,diformulasikan, atau dipahami secara rohania pada Departemen
Kamar di Hotel Grage Horizon Bengkulu.
|
- Tangibles (bukti fisik)
- Reliability (keandalan)
- Responsiveness (ketanggapan)
- Assurance (kepastian dan
jaminan)
- Emphaty (perhatian)
|
Likert
|
Sumber : Nasution (2005: 326)
Hansen dan Mowen ( 2005 : 8)
Lamb, Hair, Daniel (2001 : 485)
2.7. Hipotesis Penelitian.
Hipotesis adalah kesimpulan sementara yang masih harus dibuktikan lagi
kebenarannya. Berdasarkan kerangka konseptual yang telah diutarakan sebelumnya,
maka penulis mengemukakan hipotesa sebagai berikut:
H1: Penerapan Total Quality Management
berpengaruh terhadap efisiensi biaya pada Hotel Grage Horizon Bengkulu
H2: Penerapan Total Quality Management
berpengaruh terhadap efektivitas pelayanan pada Hotel Grage Horizon Bengkulu
BAB
III
METODOLOGI
PENELITIAN
3.1. Tempat dan Waktu
Penelitian.
Penelitian ini akan dilakukan di Hotel Grage Horizon Bengkulu dan akan
dilaksanakan selama 1 bulan penelitian yaitu bulan April – Mei 2011
3.2.Jenis Penelitian.
Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasional yaitu
penelitian yang bertujuan untuk menentukan apakah terdapat asosiasi antar
variabel dan membuat prediksi berdasarkan korelasi antarvariabel. (Erlina, Sri
Mulyani: 2007:14)
3.3. Populasi dan Sampel.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan departemen kamar pada
Hotel Horizon Bengkulu yang berjumlah 25 orang karyawan. Teknik sampling yang
dilakukan untuk penelitian ini adalah total random sampling, yaitu
seluruh anggota populasi dijadikan sampel penelitian. Jadi sampel dalam
penelitian ini adalah seluruh karyawan departemen kamar pada Hotel Horizon
Bengkulu yang berjumlah 25 orang karyawan.
3.4.Teknik Pengumpulan Data.
Berdasarkan Sugiyono, (2010:137-145) teknik pengumpulan data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah :
- Observasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan mengadakan
pengamatan langsung suatu pelaksanaan kegiatan dengan tujuan mendapatkan
gambaran mengenai keadaan yang diteliti yang kemudian dijadikan petunjuk
dan arah dari pelaksanaan penelitian.
- Wawancara, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan
dengan cara melakukan tanya jawab secara langsung kepada pimpinan dan
karyawan pada departemen kamar guna mendapatkan infonnasi yang dibutuhkan.
- Kuesioner, yaitu teknik ini merupakan pengumpulan data
yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan tertulis
kepada karyawan departemen kamar.
3.5.Teknik Analisis Data.
Metode analisis data yang digunakan dimulai dengan pembentukan model matematis
yaitu suatu pernyataan hubungan matematis yang digunakan dalam menentukan
hubungan yang berlaku antara Total Quality Management dengan efisiensi
biaya dan efektifitas pelayanan. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini
dengan metode analisis regresi linier sederhana sebagai berikut :
Y1= a + bX
(Sugiyono, 2010)
Y2= a + bX
Keterangan:
Y1 = Biaya Kualitas
Y2 = Pelayanan
a = Konstanta
b = Koefisien regresi
X = skor Total Quality Management
Regresi linear digunakan karena analisis ini dapat memberikan informasi
mengenai besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Analisis
ini dilakukan dengan menggunakan alat bantu program SPSS versi 19 for windows.
Uji t digunakan untuk menguji hipotesis secara persial, yaitu untuk mengukur X
terhadap variabel Y dengan tingkat keyakinan 95 %
atau a = 0,05
t = ……………. (Sugiyono, 2003 : 143)
Keterangan :
t = Test hipotesis
bi = Koefisien regresi
Sbi = Standar error bi
Kriteria pengujian sebagai berikut :
- Jika t hitung > t tabel maka Ho ditolak dan Ha
diterima. Berarti variabel pengaruh Total Quality Management (X)
berpengaruh terhadap efisiensi biaya (Y1)
Jika t
hitung < t tabel maka Ho diterima Ha ditolak. Berarti variabel pengaruh Total
Quality Management (X) berpengaruh terhadap efekstivitas pelayanan (Y2)
Avira Internet Security 2014 Full License Key Until 2017
merupakan antivirus terbaru yang baru saja diluncurkan oleh Avira. Antivirus
yang mempunyai logo payung merah ini dapat melindungi komputer sobat Bismillah Gratis™ ketika sobat Bismillah Gratis™ sedang berselancar di dunia maya, apakah itu ketika kita
sedang mendownload, online banking, streaming movies, dll. Pada versi ini sudah
banyak fitur-fitur terbaru yang ditambahkan yang semakin menambah keamanan
sobat Bismillah Gratis™ dalam menjelajahi dunia maya.
* System Requirements:
- OS: Windows XP, Vista, 7, 8 (32 dan 64 bit)
- RAM: 1 GB
- Disk Space: 150 MB
Secreenshot :
|
|
|
Avira
Internet Security 2014 Full License Key sampai 2017
|
Avira Internet Security 2014 Full License Key sampai 2017
* Software Information :
- Title : Avira Internet Security 2014 Full License Key sampai 2017
- Date Released : 2013
- Version : 13.0.0.3640
- Category : Antivirus
- Publisher: Avira Operations GmbH
- Format : RAR
- Size : 102 MB
Saya sudah menyertakan 4 lisensi yang masa aktifnya hingga tahun 2015. Tapi,
agar serial tidak terdeteksi, block avira menggunakan Windows Firewall. Untuk
Cara instalasi lisensi nya cukup mudah, yaitu :
1. jalankan installer nya,
2. nanti di bagian registrasi, pilih "I already have a valid
hbedv.key",
3. lalu klik link nya dan browse deh license key nya.
4. Selesai.. Avira sobat Bismillah
Gratis™ masa
aktifnya sampai 2017.